Terbiasa tanpa Cinta
Tak kujamah hati yang tak kutau
bagaimana kabarnya
Kusombongkan diriku akan apa-apa
yang diteriakkan oleh hati
Kubuang jauh-jauh tentangmu dan
wanita jalang itu
Tak kurasakan empati dari lelaki
lain
Karena kubiasakan diriku tanpa
cinta
Akhir cerita kau dengannya. Menepis setiap cerita
yang telah lama kau bangun denganku. Aku yang bukan lagi siapa-siapa untukmu.
Aku seperti debu jalanan dan dia pembersih kaca. Aku butuh beberapa waktu untuk
memenuhi kaca mobilmu tapi hadirnya, singkat saja. Sudah dapat mengusirku
dengan mudah. Siapa yang merasa tak terdustakan jika dalam fase seperti ini.
Siapa juga yang masih percaya jika kau benar-benar mencitaiku jika semudah itu
kau rajut kisah dengan wanita lainnya. Atau ini hanya perasaanku tak iklas
untuk kau tinggalkan, atau aku yang terlalu egois dengan teori cinta yang
kupunya, atau kau memang benar-benar tak sesunguhnya mencintaiku.
Kutepis apa-apa tentangmu dan wanita jalang itu yang
perlahan menikamku dari belakang. Aku yang perlahan melepas selimut cinta yang
telah menhangatkan tubuh. Berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru, yang tak
sehangat kemarin. Kemarin saat wanita jalang itu tidak melebur menjadi satu
cinta denganmu. Saat aku yang seharusnya selektif member ijin kepadamu, aku
yang seharusnya tidak memukul wanita sama. Wanita jalang itu berbeda, perlahan
dia dia mendekat, merapat, dan hap. Terperangkaplah kamu diantara selimut cinta
yang dia punya, dan gugurlah namaku dari hadapanmu.
Aku yang selalu curiga wanita mana yang kau pilih
rupanya akan memperburuk suasana. Aku yang selalu berpura-pura kuat dihadapanku
sendiri dan mendstakan hati. Berusaha tersebut lebar saat melihat social media
yang punya ternyata sudah dijajah olehnya. Aku yang selalu mendustakan hati
kala itu. Menarik nafas dalam-dalam, membendung kelopak mata agar air tak
sedikitpun menetes. Tapi usaha itu percuma, setelah kurapatkan dinding laptop
untuk melebur menjadi satu dan mengakiri kabarmu hari ini. Air mata juga ingin
bermuara,bukan seprti hati yang tak dapat berbuat apa-apa saat kau
mendustakannya. Air mata yang kau punya sekarang naik pitam, membanjiri pipimu
yang tak tau menau sedang terjadi apa.
Malam telah larut, sampai tak kusadar setiap diakhir
ceritaku yang mencari kabarmu berujung sengsara. Kutarik selimut menutupi
seluruh badan, tak kuperintahkan sedikitpun suara untuk mengiringi hadirnya air
mata. Biar dia berjalan dengan sendirinya, siapa juga yang menyuruh keluar,
karena keluarnya dia pertanda sangat rapuhnya diriku. Kurapatkan kelopak mataku,
kugigit bibirku, dan kuteriakkan perih yang mendominasi hati. Kuharap setiap
amarah itu terkumpul disekitar tenggorokan yang akan selalu siap untuk hilang
ketika aku mulai menghempaskannya tajam
melewati rongga mulut, dia terbawa angin, entah kemana dia pergi
terserah saja. Asal dia tak kembali untuk membakar hatiku lagi.
Sudah berapa lama ku harus terpuruk atas nama
cinta?. Kau harus sadar akan tanggung jawab yang kau pikul. Hati yang
seharusnya kau pertaruhkan untuk kerja keras mereka bukan hanya untuk urusan
gagalnya asmaramu. Tak sadarkah kau dipilih sebagai penguat?. Atau kau memang
orang yang tak dapat untuk diberi tanggung jawab?. Batau kau termakan akn
manisnya cita yang sudah sirna adanya?. Lail, butuh momentum seperti apa kau
harus membuka mata dan menatap dunia?.
Tak kujawab semua pertanyaan yang membanjiri logika
akan cinta dan pertangungg jawaban kerja. Kubiarkan dia membusuk disana,
kulangkahkah kakiku erlahan menyusuri tanggung jawab yang terbengkalai tak
kusentuk. Ketika aku yang sibuk menguatkan hati karena luka yang dibuatnya dan
pertangungg jawabanku akan mekanisme kerja. Aku yang perlahan mencoba tumbuh
menjadi kuat dan menpis setiap luka yang ada. Membiasakan diri beradatasi
dengan kondisi yang sangat berbahaya penjerat luka. Aku juga yang menganggap
hatiku ada setelah kau meninggalkannya. Aku yang tak ingin melihat pria lainnya
setelah merasa dustaan cinta. Aku yang selalu terpejam, tak meraba untuk
menunjukkan arah, karena sejatinya aku tak melangkah, tak berpindah dari luka
yang semula. Hanya bertopeng untuk memperbaiki suasana.
Kepergianmu menyeret beberapa makluk baru dalamku,
tapi apa daya diriku yang sudah tak berhati?. Sekalipun dia berteriak akupun
tak peduli. Berbagai untaian kata yang dia lontarkan sempurna tak berbekas dihatiku,
untuk apa aku memperdulikanmu singkat respon hati, karena sejatinya mereka yang
mendekat harus tau. Bahwa aku tak menginginkannya, aku menginginkan yang sedari
kemarin pergi.
Tingkah mereka beragam. Aku tak peduli, aku tak juga
tak ingin mereka bertingkah seperti itu. Gayamu yang seolah selalu ada buatku
percuma kau lakonkan, Aku tak butuh itu. Jika memang aku harus
menganggapmu ada . Mungkin jika kau bisa
membuat dia yang pergi, untuk kembali, singgah dan menetap disini. Tipis kubuat
senyum diantara bibir untuk menghargaimu.
Sampai pada suatu fase, hand phoneku bergetar tanapa
sebuah surat masuk. Rupanya dari kakak cantik sepadepokan smp dulu. Dia yang
sudah lebih tua dimalang dengan berbeda universias denganku (UMM). Sigkay
cerita dia member kabar gembira menurutnya, dan aku menghargai usaha yang
nyaris sia-sia dihadapanku. Lembut dia tuturkan dengan jelas diawal. “dek, mbak
punya adek. Dia pengen kenalan tapi bukan untuk masa penjajakan atau
berpacaran. Tapi dia ingin seris dalam suatu hubungan. Adek mau embak kenalin
sama dia?”. Atau tercengang kaget, tak banyak berfikir aku menjawab “maaf mbak saya masih kecil, belum siap buat yang
kayak gitu”.tak kekurangan akal kakak cantik itu membalas pesanku dengan cepat
“adek kenalan dulu aja sama dia, siapa tau cocok”. Tak kekurangan kal aku untuk
menepis setiap tawarannya, dan singkat aku menjawab “maaf mbak, saya belum siap
mungkin yang lain saja”.
Lama kakak cantik it tak menjawab pesan singkatku.
Pikiranku berlari keasan kemari mencari alas an yang dapat dimasukkan kedalam
logika. Kulayangkan lagi pesan singkat untuk menyenangkan hatinya “mbak, embak
marah sama saya?”. Cepat dia membalas “maaf dek tadi embak lagi ngajar les,
mbak ndak marah kog”. Rasa tidak enak hati membanjiri, aku yang tak tau harus menolak
dan menghormati perlakuannya seolah kekurangan akal. Dengan nada kecewa aku
bals pesan singkat tersebut “memangnya anak mana mbak?”. Singkat dia membalas
“anak UMM dek, mbak beri nomormu ke dia ya?”. Singgat aku menjawab pasrah “iya
mbak”. Selesai sudah adegan pura-pura baikku dengan kakak cantik. Sekarang aku
yang harus memikirkan segala cara untuk menolak hadirnya temankenalan kakak
cantik tersebut terhadapku.
Dretttt.dretttt, hand phoneku berbunyi. Nomor baru
sudah kudug bahwa itu kenalan yang disodorkan kak cantik. Basa basi dia
memperkenalkan diri entah seperti apa kau lupa tepatnya, yang kuingat persis
aku hanya bertanya kuliah dimana, ambil jurusan apa. Selebihnya dia bertanya
apa aku lupa. Singakat aku membalas pesan singkatnya, aku yang mempercepat
waktu tidurku agar tak diganggunya lagi. Cepat sekali bui ini berputar,
tiba-tiba sang fajar sudah indah tengger pada langit. Entah jam berapa dia
melayangkan pesan singkat lagi untukku. Dia yang mengajakku untuk bertemu pada
malam hari. Singkat aku menjawab dengan menunjukkan wujud asliku “baru kenal
tadi malam sudah minta ketemuan? Maaf silahkan cari wanita lain yang mau
bertemu denganmu saat malam hari”. Aku naik pitam rupanya semua lelaki sama
adanya. selalu membuat geram. Cepet sekali dia membalas yang berisi permintaan
maaf. Acuh saja aku dengan wujud asliku. Biar saja dia merasa bersalah, siap
juga yang menyuruhnya berbuat salah. Sama sekali tak kubalas pesan singkat
darinya, dan ada satu pesan singkat masuk dari nomor yang tak kukenal. Setelah
kutelisik dan dia tak mengaku dari mana dia medapat nomorku. Dia hanya megaku
bersekolah di universitas muhamadiyah malang. Tak lama kau berfikir, siap lagi
yang menyebarkan nomorku kalau bukan dia. Toh, aku tak punya teman pria di UMM.
Cepat kulayangkan pesan singkat untuknya”tolong jangan disebarkan nomor saya.
saya sangat tidak suka denganmu jika kamu bertinkah seperti ini” mungkin sepeti
itu tuturku, aku lupa. Tak ada balasan, tak ada lagi nomor baru nangkring di
hand phoneku, Alhamdulillah.
Tak lagi aku mencari kualisi diantara mereka yang
mendekat. Tak lagi kucari kenyamanan dari mereka. Karena kualisi dan kenyamanan
yang kupinta telah ku bawa pergi, kau yang sudah bersanding dengan wania jalang
itu. Aku yang kan selalu mengunci diri, menunggumu aau calon suamiku nanti
menepati janjiku yang tak main-main kuikrarkan kepadamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar