Masa Berkabung
Kau
putuskan untuk merubah semua alur cerita yang belum indah
kau patahankan segala angan yang masih belum sempurna dirangkai
aku sempurna hilang dihatimu,
dan tak sama sepertimu kepadaku,
kau masih indah terbungkus rapi diatas ranjang empuk sebuah penantian
akan sebuah takdir tentang harapan
harapan yang indah menurutku
karena kau membawaku kedalam kisah yang dulu dan
meninggalkanku dalam masa berkabung
kau patahankan segala angan yang masih belum sempurna dirangkai
aku sempurna hilang dihatimu,
dan tak sama sepertimu kepadaku,
kau masih indah terbungkus rapi diatas ranjang empuk sebuah penantian
akan sebuah takdir tentang harapan
harapan yang indah menurutku
karena kau membawaku kedalam kisah yang dulu dan
meninggalkanku dalam masa berkabung
sempurna sudah buah tangan emosi yang telah aku bangun. Semuanya hancur tak bersisa, kau benar-benar tak ada kabar bahkan media social itu menghilangkan bayanganmu. Seperti kau dan aku dipisahkan oleh sebuah membran, aku terdialisis keluar dan kau masih terjaga didalam tanpa sebuah celah yang bisa aku lihat, sedikitpun. Kau membatasi dirimu akan hadirnya aku, aku yang susah payang menyusuri kabar seperti percuma kulakukan, usaha itu sia-sia. Aku hanya semakin buruk dari hari sebelumnya, lebih banyak air mata, lamunan dan ilusi tentang sebuah kenangan yang belum sempat indah. Aku terpuruk dengan keadaanku, seperti kau dilinbdungi benteng yang sangat tinggi dan aku tepat didepannya tanpa tau harus berbuat apa.
Sudah usang hari setelah musibah itu hilang.
Matahari dan bulan acuh dan tak menghiraukan hatiku yang meradang. Hingga pada
suatu saat yang sangat indah saat aku mendapatkan kabar darimu lewat sebuah
gelombang dengan frekuensi tertentu. Aku sangat bahagia aku tatap lamat-lamat
layar sempit yang menghubunganku denganmu, sepeti dia sempurna melekat diatas
jemariku. Aku sudah melupakan semua perbincangan yang kita uraikan. Aku hanya
ingat tentang satu hal yang sangat membuatku kecewa.
“nanti kau pasti bertemu dengan pasanganmu, dan aku
juga akan bertemu dengan pasanganku. Jika kita jodoh kita pasti akan kembali.
Kau akan jadi miliki orang lain dan akupun sama sepertimu”. Kusangkal kalimatmu
tanpa kupikir ulang. Kujanjikan sebuah pernyataan “aku bisa janjikan akan sebuah
kesetiaan. Silahkan saja kau habiskan cintamu dengan wanita lainnya, dan aku
bersaksi kepadamu bahwa aku tak akan pernah sepertimu”. Jika tak salah ingatanku
berdiri pada sebuah target percangan itu berakhir dengan tanda tanya. Lamunan
itu sempurna memasuki ragaku mengambil semua alam sadar yang telah tipis tiada
arti. Berbagai parody yang dianggap lucu tak menuai tawa, hanya duka yang
selalu kusaksikan didepan lensa. Pertanyataanmu yang selalu kubayangkan sebuah
kekecewaan dan sebuah ketakutan ketika kau sudah memberikan hatimu untuk wanita
lain.
Selesai sudah waktuku didalam kota pahlawan ini. Aku
yang harus kembali menuntun ilmu dikota singa dan membawa duka yang masih
sempurna membekas. Benar lamunan itu hilang tapi tanggung jawab dikota ini
begitu besar. Aku yang harus mengorbankan hatiku untuk sebuah urusan. Aku
terlalu rapuh untuk menerima kritikan atau bahkan hanya untuk mendengar sebuah
bentakan. Jika memang seperti ini hati yang sebelah mana yang bisa dikuatkan?.
Sudah kau hitmkan hati yang aku punya dan tangung jawab ini bisa membakar di
yang telah hitam.
Percuma asja aku mengeluh, percuma saja aku mebangis
jika aku tak kunjung bergerak merubah keadaan dan memperbaikinya. Aku
menguatkan hatiku dengan segala doktrin tentang sebuah kesalahan untuk tidak
mengulanginya lagi. Hingga sebuah
tanggung jwab yang besar itu bharus dipertanggung jawabkan. Hari itu sangat
menguras tenaga dan emosi. Menghidrolisis segalama macam atm dari polisakarida
yang telah aku konsumsi. Aku yang belum terbiasa berdiri sendiri tanpamu mersa
kesusahan. Aku menconba memberimu kabar lagi dan merendahkan segala ego yang
aku pendam. Aku yang mengeluh kepadamu sangat bahagia saat kau membalas
“sayang”, sontak aku kaget dan menanyakan kebenarannya. Kisah itu sangatlah
getir aku yang masih mengharapkanmu kembali harus berduka.
Wanita mana yang kau pilih, bisu itu kuktakan pada
diriku sendiri setah kau beberbkan kau yang telah tak sendiri lagi. Mengapa kau
harus mengungkapkannya? Mengapa disaat seperti ini saat aku benar-benar tak
kuat lagi untuk berdiri, berjuang untuk sebuah tangung jawab?. Aku memang aku
benar-benar tiada artinya lagi untukmu sehingga sudah kau jatuhkan pilihanmu
untuk wanita lainnya? Sudah puaskah engkau? Inikah pembalasan yang kau?
Bukankah sakit hati itu tidak enak rasanya, tapi mengapa kau membalasnya
untukku? Bukankah tidak itu adanya? aku aku yang masih terlalu egois dengan
doktrin yang aku bawa dan berusaha membenarkan apa yang aku mau?.
Luntur sudah harapan yang masih bisa berdiri 50
derajat. Dia sudah tersungkur didalam tanah akan sebuah duka. Kau telah
memilihnya, wanita jalang itu. Mimpi sebelum tidur itu sudah tak bisa aku uraikan.
Sudah tidak ada lagi gaun putih tergerai dengan sebuah ikrar kestiaan. Sudah
tidak ada lagi kesibukan setelah ikrar itu dilontarkan. Aku yang langsung lelap
terjaga memaksa imajinasiku tak memutarnya lagi, tak mengingatnbya lagi. Karena
kisah itu telah lisis untuk kebahagiaan saya. Semoga kau bahagia bersamanya.
Janjiku takkan kuingkari aku akan tetap berdiri disini melihatmu yang telah
asyik bersama wanita yang ad disampungmu saat ini. Aku takkan pergi, jangankan
untuk satu inci menolehpun enggan. Silahkan tertawa aku akan akan memaksa
diriku tertawa juga untuk kebahagiaanmu yang tak denganku.
Sedih melihat aku yang tak bisa menemukan
kebahagiaan lagi, dia menepukku dari belakang dan mengagetkanku akan sebuah
pernyataan “mengapa kau memkirkan dia yang sudah bahagia? Bukankah kau pantas
mendapatkan kebahagiaan itu juga. Cobalah lihat yang ada didepan dia mungkin
lebih indah dari pada dia yang sebelumnya”, dengan lugu aku menjawab “aku sudah
melihat kedepan, yang kulihat hanya dia dan wania pilihannya. Aku sudah melihat
kedepan dan berjalan mundur untuk menyibak semua yang akan datang”. “bagaimana
kau bisa menghentikan air matamu jika kau patenkan keadaanmu seperti ini”.
“biarlah saja, ini sebuah konsekuensi tentang cinta, biarlah aku melihatnya
bhagia seperti dia yang melihatku bahagia dulu. Kapan lagi aku bisa meraskan
hal seperti ini”.
Berlalu normal sudah hari-hari itu dengan aku yang
semakin penasan dengan wnita pilihanmu, aku yang selalu membututi media social
terus bertanya apakah dia, apakah itu wanita pilihannya?. Aku yang mendunga
dengan tiada bukti “apakah wanita itu adalah wanita yang diantarnya, atau jika
tidak teman sekolahnya, jika tidak temn rumahnya karena tidak mungkin secepat
itu jika berkenalan dengan orang baru”. Kupelototi satu persatu wanita yang
tertempel disama, dengan mengorbankan waktu tidurku. Aku yakin bahwa dialah
orang sampai suatu hari tujuhanku benar. Mulus melandas diatas target yang ku
incar. Cantik, pantas saja kau memilihnya.
Aku yang mengikuti setiap kehidupanmu, seolah tak
ingin menghilangkan satu momenpun yang telah kau lewatkan. Sampai suatu saat
aku berhenti menelisik dan tersudut dalam sebuah pernyataan yang kau inginka.
Ketika temanmu berkata “semoga yang terakhir” atau apalah aku lupa yang psti
begitu maksudnya. Aku btertegun lemas tak bertenaga, seperti tak berharga aku
yang telah lama denganmu, kau meninggalkanku dengan wanita itu dalam rentang
yang cukup sempit. Bisakah saya mempercayaimu jika begini? Jika kau sudah
dengan yang lain dan dengn mudahnya meninggalkan kenbangan dulu yang sudah
terangkai. Atau aku benar tak berharga untukmu, atau selama ini kau tak benar
mencintaiku?. Lalu, untuk apa aku harus menderita? Menangisi apa yang
sebernarnya tidak terjadi, aku sangat kecewa denganmu dan sangat kecewa lebih dari
apa yang bisa aku tuliskan.
Tergambar jelas wanita jalang itu tepat dihadapan
kelopakku. Dia benar-benar tak bisa kuburamkan. Tatap matanya, senyumnya,
tuturnya kepadamu jelas sudah mengendalikan apa-apa dari diriku. Hadirnya tak
sanggup kudustakan ternyata hati juga dapat meradang, dia juga sama seperti
hati yang lain. Kau yang tengah bahagia mengapa aku tak bisa?. Meski tak ada
hati yang terbawa tak bisanya senyum ini merekah?. Apa air mata ini tak dapat
dikendalikan?. Mengaa hanya bisa menagis tanpa ada solusi untuk diam? Mengapa
tak kau padatkan saya hari-harimu dengan apa-apa yang menyita perhatianmu
sehingga tak lagi kau ingin apa-apa tentang dia!.
Kubiasakan hatiku hidup diruang baru yang sangat
kalut, tak kuperhatikan dia yang sedang merintih, biarlah saya biar dia kuat.
Apa-apa yang aku lakukan akan percuma saja adanya dia sudah dengan yang lain ku
takkan mengganggunya. Dia tengah bahagia doakan saja agar dia benar-benar
bahagia. Tak perlu bersedih, tak perlu mengeluh, kau wanita pilihan untuk dijadikan
kuat oleh Tuhan mengapa tak kau jalankan dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar