Rabu, 08 Oktober 2014

Terbiasa tanpa Cinta



 
Tak kujamah hati yang tak kutau bagaimana kabarnya
Kusombongkan diriku akan apa-apa yang diteriakkan oleh hati
Kubuang jauh-jauh tentangmu dan wanita jalang itu
Tak kurasakan empati dari lelaki lain
Karena kubiasakan diriku tanpa cinta



Akhir cerita kau dengannya. Menepis setiap cerita yang telah lama kau bangun denganku. Aku yang bukan lagi siapa-siapa untukmu. Aku seperti debu jalanan dan dia pembersih kaca. Aku butuh beberapa waktu untuk memenuhi kaca mobilmu tapi hadirnya, singkat saja. Sudah dapat mengusirku dengan mudah. Siapa yang merasa tak terdustakan jika dalam fase seperti ini. Siapa juga yang masih percaya jika kau benar-benar mencitaiku jika semudah itu kau rajut kisah dengan wanita lainnya. Atau ini hanya perasaanku tak iklas untuk kau tinggalkan, atau aku yang terlalu egois dengan teori cinta yang kupunya, atau kau memang benar-benar tak sesunguhnya mencintaiku.
Kutepis apa-apa tentangmu dan wanita jalang itu yang perlahan menikamku dari belakang. Aku yang perlahan melepas selimut cinta yang telah menhangatkan tubuh. Berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru, yang tak sehangat kemarin. Kemarin saat wanita jalang itu tidak melebur menjadi satu cinta denganmu. Saat aku yang seharusnya selektif member ijin kepadamu, aku yang seharusnya tidak memukul wanita sama. Wanita jalang itu berbeda, perlahan dia dia mendekat, merapat, dan hap. Terperangkaplah kamu diantara selimut cinta yang dia punya, dan gugurlah namaku dari hadapanmu.
Aku yang selalu curiga wanita mana yang kau pilih rupanya akan memperburuk suasana. Aku yang selalu berpura-pura kuat dihadapanku sendiri dan mendstakan hati. Berusaha tersebut lebar saat melihat social media yang punya ternyata sudah dijajah olehnya. Aku yang selalu mendustakan hati kala itu. Menarik nafas dalam-dalam, membendung kelopak mata agar air tak sedikitpun menetes. Tapi usaha itu percuma, setelah kurapatkan dinding laptop untuk melebur menjadi satu dan mengakiri kabarmu hari ini. Air mata juga ingin bermuara,bukan seprti hati yang tak dapat berbuat apa-apa saat kau mendustakannya. Air mata yang kau punya sekarang naik pitam, membanjiri pipimu yang tak tau menau sedang terjadi apa.
Malam telah larut, sampai tak kusadar setiap diakhir ceritaku yang mencari kabarmu berujung sengsara. Kutarik selimut menutupi seluruh badan, tak kuperintahkan sedikitpun suara untuk mengiringi hadirnya air mata. Biar dia berjalan dengan sendirinya, siapa juga yang menyuruh keluar, karena keluarnya dia pertanda sangat rapuhnya diriku. Kurapatkan kelopak mataku, kugigit bibirku, dan kuteriakkan perih yang mendominasi hati. Kuharap setiap amarah itu terkumpul disekitar tenggorokan yang akan selalu siap untuk hilang ketika aku mulai menghempaskannya tajam  melewati rongga mulut, dia terbawa angin, entah kemana dia pergi terserah saja. Asal dia tak kembali untuk membakar hatiku lagi.
Sudah berapa lama ku harus terpuruk atas nama cinta?. Kau harus sadar akan tanggung jawab yang kau pikul. Hati yang seharusnya kau pertaruhkan untuk kerja keras mereka bukan hanya untuk urusan gagalnya asmaramu. Tak sadarkah kau dipilih sebagai penguat?. Atau kau memang orang yang tak dapat untuk diberi tanggung jawab?. Batau kau termakan akn manisnya cita yang sudah sirna adanya?. Lail, butuh momentum seperti apa kau harus membuka mata dan menatap dunia?.
Tak kujawab semua pertanyaan yang membanjiri logika akan cinta dan pertangungg jawaban kerja. Kubiarkan dia membusuk disana, kulangkahkah kakiku erlahan menyusuri tanggung jawab yang terbengkalai tak kusentuk. Ketika aku yang sibuk menguatkan hati karena luka yang dibuatnya dan pertangungg jawabanku akan mekanisme kerja. Aku yang perlahan mencoba tumbuh menjadi kuat dan menpis setiap luka yang ada. Membiasakan diri beradatasi dengan kondisi yang sangat berbahaya penjerat luka. Aku juga yang menganggap hatiku ada setelah kau meninggalkannya. Aku yang tak ingin melihat pria lainnya setelah merasa dustaan cinta. Aku yang selalu terpejam, tak meraba untuk menunjukkan arah, karena sejatinya aku tak melangkah, tak berpindah dari luka yang semula. Hanya bertopeng untuk memperbaiki suasana.
Kepergianmu menyeret beberapa makluk baru dalamku, tapi apa daya diriku yang sudah tak berhati?. Sekalipun dia berteriak akupun tak peduli. Berbagai untaian kata yang dia lontarkan sempurna tak berbekas dihatiku, untuk apa aku memperdulikanmu singkat respon hati, karena sejatinya mereka yang mendekat harus tau. Bahwa aku tak menginginkannya, aku menginginkan yang sedari kemarin pergi.
Tingkah mereka beragam. Aku tak peduli, aku tak juga tak ingin mereka bertingkah seperti itu. Gayamu yang seolah selalu ada buatku percuma kau lakonkan, Aku tak butuh itu. Jika memang aku harus menganggapmu  ada . Mungkin jika kau bisa membuat dia yang pergi, untuk kembali, singgah dan menetap disini. Tipis kubuat senyum diantara bibir untuk menghargaimu.
Sampai pada suatu fase, hand phoneku bergetar tanapa sebuah surat masuk. Rupanya dari kakak cantik sepadepokan smp dulu. Dia yang sudah lebih tua dimalang dengan berbeda universias denganku (UMM). Sigkay cerita dia member kabar gembira menurutnya, dan aku menghargai usaha yang nyaris sia-sia dihadapanku. Lembut dia tuturkan dengan jelas diawal. “dek, mbak punya adek. Dia pengen kenalan tapi bukan untuk masa penjajakan atau berpacaran. Tapi dia ingin seris dalam suatu hubungan. Adek mau embak kenalin sama dia?”. Atau tercengang kaget, tak banyak berfikir aku menjawab “maaf  mbak saya masih kecil, belum siap buat yang kayak gitu”.tak kekurangan akal kakak cantik itu membalas pesanku dengan cepat “adek kenalan dulu aja sama dia, siapa tau cocok”. Tak kekurangan kal aku untuk menepis setiap tawarannya, dan singkat aku menjawab “maaf mbak, saya belum siap mungkin yang lain saja”.
Lama kakak cantik it tak menjawab pesan singkatku. Pikiranku berlari keasan kemari mencari alas an yang dapat dimasukkan kedalam logika. Kulayangkan lagi pesan singkat untuk menyenangkan hatinya “mbak, embak marah sama saya?”. Cepat dia membalas “maaf dek tadi embak lagi ngajar les, mbak ndak marah kog”. Rasa tidak enak hati membanjiri, aku yang tak tau harus menolak dan menghormati perlakuannya seolah kekurangan akal. Dengan nada kecewa aku bals pesan singkat tersebut “memangnya anak mana mbak?”. Singkat dia membalas “anak UMM dek, mbak beri nomormu ke dia ya?”. Singgat aku menjawab pasrah “iya mbak”. Selesai sudah adegan pura-pura baikku dengan kakak cantik. Sekarang aku yang harus memikirkan segala cara untuk menolak hadirnya temankenalan kakak cantik tersebut terhadapku.
Dretttt.dretttt, hand phoneku berbunyi. Nomor baru sudah kudug bahwa itu kenalan yang disodorkan kak cantik. Basa basi dia memperkenalkan diri entah seperti apa kau lupa tepatnya, yang kuingat persis aku hanya bertanya kuliah dimana, ambil jurusan apa. Selebihnya dia bertanya apa aku lupa. Singakat aku membalas pesan singkatnya, aku yang mempercepat waktu tidurku agar tak diganggunya lagi. Cepat sekali bui ini berputar, tiba-tiba sang fajar sudah indah tengger pada langit. Entah jam berapa dia melayangkan pesan singkat lagi untukku. Dia yang mengajakku untuk bertemu pada malam hari. Singkat aku menjawab dengan menunjukkan wujud asliku “baru kenal tadi malam sudah minta ketemuan? Maaf silahkan cari wanita lain yang mau bertemu denganmu saat malam hari”. Aku naik pitam rupanya semua lelaki sama adanya. selalu membuat geram. Cepet sekali dia membalas yang berisi permintaan maaf. Acuh saja aku dengan wujud asliku. Biar saja dia merasa bersalah, siap juga yang menyuruhnya berbuat salah. Sama sekali tak kubalas pesan singkat darinya, dan ada satu pesan singkat masuk dari nomor yang tak kukenal. Setelah kutelisik dan dia tak mengaku dari mana dia medapat nomorku. Dia hanya megaku bersekolah di universitas muhamadiyah malang. Tak lama kau berfikir, siap lagi yang menyebarkan nomorku kalau bukan dia. Toh, aku tak punya teman pria di UMM. Cepat kulayangkan pesan singkat untuknya”tolong jangan disebarkan nomor saya. saya sangat tidak suka denganmu jika kamu bertinkah seperti ini” mungkin sepeti itu tuturku, aku lupa. Tak ada balasan, tak ada lagi nomor baru nangkring di hand phoneku, Alhamdulillah.

Tak lagi aku mencari kualisi diantara mereka yang mendekat. Tak lagi kucari kenyamanan dari mereka. Karena kualisi dan kenyamanan yang kupinta telah ku bawa pergi, kau yang sudah bersanding dengan wania jalang itu. Aku yang kan selalu mengunci diri, menunggumu aau calon suamiku nanti menepati janjiku yang tak main-main kuikrarkan kepadamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar