Masa, bukan aku tapi karena ini milikiMU
Minggu, 08 Maret 2015
Dendamku - Waktu
Masa, bukan aku tapi karena ini milikiMU: Dendamku - Waktu: Dendamku - Waktu Apalah arti kita dibanding waktu apalagi jika bersekongkol dengan jarak bukan apa-apa kita dibanding mereka mengalah ...
Dendamku - Waktu
Dendamku - Waktu
Apalah arti kita dibanding waktu
apalagi jika bersekongkol dengan jarak
bukan apa-apa kita dibanding mereka
mengalah adalah salah satu jalan tengah, dimana kita hanya bisa berlapang dada dan membendung romansa cinta
titik temu adalah hal terindah yan selalu kita nantikan
titik temu itu difrekuensi yang kuketahui, kau lantunkan nada cinta itu lembut ditelingaku
kugambar jelas potretmu dalam ruang imaji
sungguh indah
aku bangga saat itu, ketika waktu tak lagi dapat berkutik
ketika dia lumpuh dan terpenjara pada frekuensi kesekian untuk beberapa waktu
aku tersenyum puas, seperti kau ada disini
tapi dia tetap angkuh, meski kita merintih tetap saja hanya 1/6 yang dia beri
tak lebih!
tunggu saja ketika momentum itu tiba
kau akan lumat dan turut membahagiakan momentum yang akan kita rangkai
kau akan tunduk dan berlutut dihadapanku
jarak yang katamu teman setia tak lagi menggenalmu
kau sempurna sendiri dan kesepian
aku hanya tersenyum angkuh dan menatapmu dengan seribu balasan
Apalah arti kita dibanding waktu
apalagi jika bersekongkol dengan jarak
bukan apa-apa kita dibanding mereka
mengalah adalah salah satu jalan tengah, dimana kita hanya bisa berlapang dada dan membendung romansa cinta
titik temu adalah hal terindah yan selalu kita nantikan
titik temu itu difrekuensi yang kuketahui, kau lantunkan nada cinta itu lembut ditelingaku
kugambar jelas potretmu dalam ruang imaji
sungguh indah
aku bangga saat itu, ketika waktu tak lagi dapat berkutik
ketika dia lumpuh dan terpenjara pada frekuensi kesekian untuk beberapa waktu
aku tersenyum puas, seperti kau ada disini
tapi dia tetap angkuh, meski kita merintih tetap saja hanya 1/6 yang dia beri
tak lebih!
tunggu saja ketika momentum itu tiba
kau akan lumat dan turut membahagiakan momentum yang akan kita rangkai
kau akan tunduk dan berlutut dihadapanku
jarak yang katamu teman setia tak lagi menggenalmu
kau sempurna sendiri dan kesepian
aku hanya tersenyum angkuh dan menatapmu dengan seribu balasan
Sabtu, 07 Maret 2015
Terbiasa tanpa Cinta
Masa, bukan aku tapi karena ini milikiMU: Terbiasa tanpa Cinta
Tak kujamah hati yang tak ...: Terbiasa tanpa Cinta Tak kujamah hati yang tak kutau bagaimana kabarnya Kusombongkan diriku akan apa-apa yang diteriakkan ole...
Tak kujamah hati yang tak ...: Terbiasa tanpa Cinta Tak kujamah hati yang tak kutau bagaimana kabarnya Kusombongkan diriku akan apa-apa yang diteriakkan ole...
Masa Berkabung
Masa, bukan aku tapi karena ini milikiMU: Masa Berkabung
Kauputuskan untuk merubah semua al...: Masa Berkabung Kau putuskan untuk merubah semua alur cerita yang belum indah kau patahankan segala angan yang masih belum sempurna d...
Kauputuskan untuk merubah semua al...: Masa Berkabung Kau putuskan untuk merubah semua alur cerita yang belum indah kau patahankan segala angan yang masih belum sempurna d...
Senin, 03 November 2014
Rabu, 08 Oktober 2014
Masa Berkabung
Kau
putuskan untuk merubah semua alur cerita yang belum indah
kau patahankan segala angan yang masih belum sempurna dirangkai
aku sempurna hilang dihatimu,
dan tak sama sepertimu kepadaku,
kau masih indah terbungkus rapi diatas ranjang empuk sebuah penantian
akan sebuah takdir tentang harapan
harapan yang indah menurutku
karena kau membawaku kedalam kisah yang dulu dan
meninggalkanku dalam masa berkabung
kau patahankan segala angan yang masih belum sempurna dirangkai
aku sempurna hilang dihatimu,
dan tak sama sepertimu kepadaku,
kau masih indah terbungkus rapi diatas ranjang empuk sebuah penantian
akan sebuah takdir tentang harapan
harapan yang indah menurutku
karena kau membawaku kedalam kisah yang dulu dan
meninggalkanku dalam masa berkabung
sempurna sudah buah tangan emosi yang telah aku bangun. Semuanya hancur tak bersisa, kau benar-benar tak ada kabar bahkan media social itu menghilangkan bayanganmu. Seperti kau dan aku dipisahkan oleh sebuah membran, aku terdialisis keluar dan kau masih terjaga didalam tanpa sebuah celah yang bisa aku lihat, sedikitpun. Kau membatasi dirimu akan hadirnya aku, aku yang susah payang menyusuri kabar seperti percuma kulakukan, usaha itu sia-sia. Aku hanya semakin buruk dari hari sebelumnya, lebih banyak air mata, lamunan dan ilusi tentang sebuah kenangan yang belum sempat indah. Aku terpuruk dengan keadaanku, seperti kau dilinbdungi benteng yang sangat tinggi dan aku tepat didepannya tanpa tau harus berbuat apa.
Sudah usang hari setelah musibah itu hilang.
Matahari dan bulan acuh dan tak menghiraukan hatiku yang meradang. Hingga pada
suatu saat yang sangat indah saat aku mendapatkan kabar darimu lewat sebuah
gelombang dengan frekuensi tertentu. Aku sangat bahagia aku tatap lamat-lamat
layar sempit yang menghubunganku denganmu, sepeti dia sempurna melekat diatas
jemariku. Aku sudah melupakan semua perbincangan yang kita uraikan. Aku hanya
ingat tentang satu hal yang sangat membuatku kecewa.
“nanti kau pasti bertemu dengan pasanganmu, dan aku
juga akan bertemu dengan pasanganku. Jika kita jodoh kita pasti akan kembali.
Kau akan jadi miliki orang lain dan akupun sama sepertimu”. Kusangkal kalimatmu
tanpa kupikir ulang. Kujanjikan sebuah pernyataan “aku bisa janjikan akan sebuah
kesetiaan. Silahkan saja kau habiskan cintamu dengan wanita lainnya, dan aku
bersaksi kepadamu bahwa aku tak akan pernah sepertimu”. Jika tak salah ingatanku
berdiri pada sebuah target percangan itu berakhir dengan tanda tanya. Lamunan
itu sempurna memasuki ragaku mengambil semua alam sadar yang telah tipis tiada
arti. Berbagai parody yang dianggap lucu tak menuai tawa, hanya duka yang
selalu kusaksikan didepan lensa. Pertanyataanmu yang selalu kubayangkan sebuah
kekecewaan dan sebuah ketakutan ketika kau sudah memberikan hatimu untuk wanita
lain.
Selesai sudah waktuku didalam kota pahlawan ini. Aku
yang harus kembali menuntun ilmu dikota singa dan membawa duka yang masih
sempurna membekas. Benar lamunan itu hilang tapi tanggung jawab dikota ini
begitu besar. Aku yang harus mengorbankan hatiku untuk sebuah urusan. Aku
terlalu rapuh untuk menerima kritikan atau bahkan hanya untuk mendengar sebuah
bentakan. Jika memang seperti ini hati yang sebelah mana yang bisa dikuatkan?.
Sudah kau hitmkan hati yang aku punya dan tangung jawab ini bisa membakar di
yang telah hitam.
Percuma asja aku mengeluh, percuma saja aku mebangis
jika aku tak kunjung bergerak merubah keadaan dan memperbaikinya. Aku
menguatkan hatiku dengan segala doktrin tentang sebuah kesalahan untuk tidak
mengulanginya lagi. Hingga sebuah
tanggung jwab yang besar itu bharus dipertanggung jawabkan. Hari itu sangat
menguras tenaga dan emosi. Menghidrolisis segalama macam atm dari polisakarida
yang telah aku konsumsi. Aku yang belum terbiasa berdiri sendiri tanpamu mersa
kesusahan. Aku menconba memberimu kabar lagi dan merendahkan segala ego yang
aku pendam. Aku yang mengeluh kepadamu sangat bahagia saat kau membalas
“sayang”, sontak aku kaget dan menanyakan kebenarannya. Kisah itu sangatlah
getir aku yang masih mengharapkanmu kembali harus berduka.
Wanita mana yang kau pilih, bisu itu kuktakan pada
diriku sendiri setah kau beberbkan kau yang telah tak sendiri lagi. Mengapa kau
harus mengungkapkannya? Mengapa disaat seperti ini saat aku benar-benar tak
kuat lagi untuk berdiri, berjuang untuk sebuah tangung jawab?. Aku memang aku
benar-benar tiada artinya lagi untukmu sehingga sudah kau jatuhkan pilihanmu
untuk wanita lainnya? Sudah puaskah engkau? Inikah pembalasan yang kau?
Bukankah sakit hati itu tidak enak rasanya, tapi mengapa kau membalasnya
untukku? Bukankah tidak itu adanya? aku aku yang masih terlalu egois dengan
doktrin yang aku bawa dan berusaha membenarkan apa yang aku mau?.
Luntur sudah harapan yang masih bisa berdiri 50
derajat. Dia sudah tersungkur didalam tanah akan sebuah duka. Kau telah
memilihnya, wanita jalang itu. Mimpi sebelum tidur itu sudah tak bisa aku uraikan.
Sudah tidak ada lagi gaun putih tergerai dengan sebuah ikrar kestiaan. Sudah
tidak ada lagi kesibukan setelah ikrar itu dilontarkan. Aku yang langsung lelap
terjaga memaksa imajinasiku tak memutarnya lagi, tak mengingatnbya lagi. Karena
kisah itu telah lisis untuk kebahagiaan saya. Semoga kau bahagia bersamanya.
Janjiku takkan kuingkari aku akan tetap berdiri disini melihatmu yang telah
asyik bersama wanita yang ad disampungmu saat ini. Aku takkan pergi, jangankan
untuk satu inci menolehpun enggan. Silahkan tertawa aku akan akan memaksa
diriku tertawa juga untuk kebahagiaanmu yang tak denganku.
Sedih melihat aku yang tak bisa menemukan
kebahagiaan lagi, dia menepukku dari belakang dan mengagetkanku akan sebuah
pernyataan “mengapa kau memkirkan dia yang sudah bahagia? Bukankah kau pantas
mendapatkan kebahagiaan itu juga. Cobalah lihat yang ada didepan dia mungkin
lebih indah dari pada dia yang sebelumnya”, dengan lugu aku menjawab “aku sudah
melihat kedepan, yang kulihat hanya dia dan wania pilihannya. Aku sudah melihat
kedepan dan berjalan mundur untuk menyibak semua yang akan datang”. “bagaimana
kau bisa menghentikan air matamu jika kau patenkan keadaanmu seperti ini”.
“biarlah saja, ini sebuah konsekuensi tentang cinta, biarlah aku melihatnya
bhagia seperti dia yang melihatku bahagia dulu. Kapan lagi aku bisa meraskan
hal seperti ini”.
Berlalu normal sudah hari-hari itu dengan aku yang
semakin penasan dengan wnita pilihanmu, aku yang selalu membututi media social
terus bertanya apakah dia, apakah itu wanita pilihannya?. Aku yang mendunga
dengan tiada bukti “apakah wanita itu adalah wanita yang diantarnya, atau jika
tidak teman sekolahnya, jika tidak temn rumahnya karena tidak mungkin secepat
itu jika berkenalan dengan orang baru”. Kupelototi satu persatu wanita yang
tertempel disama, dengan mengorbankan waktu tidurku. Aku yakin bahwa dialah
orang sampai suatu hari tujuhanku benar. Mulus melandas diatas target yang ku
incar. Cantik, pantas saja kau memilihnya.
Aku yang mengikuti setiap kehidupanmu, seolah tak
ingin menghilangkan satu momenpun yang telah kau lewatkan. Sampai suatu saat
aku berhenti menelisik dan tersudut dalam sebuah pernyataan yang kau inginka.
Ketika temanmu berkata “semoga yang terakhir” atau apalah aku lupa yang psti
begitu maksudnya. Aku btertegun lemas tak bertenaga, seperti tak berharga aku
yang telah lama denganmu, kau meninggalkanku dengan wanita itu dalam rentang
yang cukup sempit. Bisakah saya mempercayaimu jika begini? Jika kau sudah
dengan yang lain dan dengn mudahnya meninggalkan kenbangan dulu yang sudah
terangkai. Atau aku benar tak berharga untukmu, atau selama ini kau tak benar
mencintaiku?. Lalu, untuk apa aku harus menderita? Menangisi apa yang
sebernarnya tidak terjadi, aku sangat kecewa denganmu dan sangat kecewa lebih dari
apa yang bisa aku tuliskan.
Tergambar jelas wanita jalang itu tepat dihadapan
kelopakku. Dia benar-benar tak bisa kuburamkan. Tatap matanya, senyumnya,
tuturnya kepadamu jelas sudah mengendalikan apa-apa dari diriku. Hadirnya tak
sanggup kudustakan ternyata hati juga dapat meradang, dia juga sama seperti
hati yang lain. Kau yang tengah bahagia mengapa aku tak bisa?. Meski tak ada
hati yang terbawa tak bisanya senyum ini merekah?. Apa air mata ini tak dapat
dikendalikan?. Mengaa hanya bisa menagis tanpa ada solusi untuk diam? Mengapa
tak kau padatkan saya hari-harimu dengan apa-apa yang menyita perhatianmu
sehingga tak lagi kau ingin apa-apa tentang dia!.
Kubiasakan hatiku hidup diruang baru yang sangat
kalut, tak kuperhatikan dia yang sedang merintih, biarlah saya biar dia kuat.
Apa-apa yang aku lakukan akan percuma saja adanya dia sudah dengan yang lain ku
takkan mengganggunya. Dia tengah bahagia doakan saja agar dia benar-benar
bahagia. Tak perlu bersedih, tak perlu mengeluh, kau wanita pilihan untuk dijadikan
kuat oleh Tuhan mengapa tak kau jalankan dengan baik.
Terbiasa tanpa Cinta
Tak kujamah hati yang tak kutau
bagaimana kabarnya
Kusombongkan diriku akan apa-apa
yang diteriakkan oleh hati
Kubuang jauh-jauh tentangmu dan
wanita jalang itu
Tak kurasakan empati dari lelaki
lain
Karena kubiasakan diriku tanpa
cinta
Akhir cerita kau dengannya. Menepis setiap cerita
yang telah lama kau bangun denganku. Aku yang bukan lagi siapa-siapa untukmu.
Aku seperti debu jalanan dan dia pembersih kaca. Aku butuh beberapa waktu untuk
memenuhi kaca mobilmu tapi hadirnya, singkat saja. Sudah dapat mengusirku
dengan mudah. Siapa yang merasa tak terdustakan jika dalam fase seperti ini.
Siapa juga yang masih percaya jika kau benar-benar mencitaiku jika semudah itu
kau rajut kisah dengan wanita lainnya. Atau ini hanya perasaanku tak iklas
untuk kau tinggalkan, atau aku yang terlalu egois dengan teori cinta yang
kupunya, atau kau memang benar-benar tak sesunguhnya mencintaiku.
Kutepis apa-apa tentangmu dan wanita jalang itu yang
perlahan menikamku dari belakang. Aku yang perlahan melepas selimut cinta yang
telah menhangatkan tubuh. Berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru, yang tak
sehangat kemarin. Kemarin saat wanita jalang itu tidak melebur menjadi satu
cinta denganmu. Saat aku yang seharusnya selektif member ijin kepadamu, aku
yang seharusnya tidak memukul wanita sama. Wanita jalang itu berbeda, perlahan
dia dia mendekat, merapat, dan hap. Terperangkaplah kamu diantara selimut cinta
yang dia punya, dan gugurlah namaku dari hadapanmu.
Aku yang selalu curiga wanita mana yang kau pilih
rupanya akan memperburuk suasana. Aku yang selalu berpura-pura kuat dihadapanku
sendiri dan mendstakan hati. Berusaha tersebut lebar saat melihat social media
yang punya ternyata sudah dijajah olehnya. Aku yang selalu mendustakan hati
kala itu. Menarik nafas dalam-dalam, membendung kelopak mata agar air tak
sedikitpun menetes. Tapi usaha itu percuma, setelah kurapatkan dinding laptop
untuk melebur menjadi satu dan mengakiri kabarmu hari ini. Air mata juga ingin
bermuara,bukan seprti hati yang tak dapat berbuat apa-apa saat kau
mendustakannya. Air mata yang kau punya sekarang naik pitam, membanjiri pipimu
yang tak tau menau sedang terjadi apa.
Malam telah larut, sampai tak kusadar setiap diakhir
ceritaku yang mencari kabarmu berujung sengsara. Kutarik selimut menutupi
seluruh badan, tak kuperintahkan sedikitpun suara untuk mengiringi hadirnya air
mata. Biar dia berjalan dengan sendirinya, siapa juga yang menyuruh keluar,
karena keluarnya dia pertanda sangat rapuhnya diriku. Kurapatkan kelopak mataku,
kugigit bibirku, dan kuteriakkan perih yang mendominasi hati. Kuharap setiap
amarah itu terkumpul disekitar tenggorokan yang akan selalu siap untuk hilang
ketika aku mulai menghempaskannya tajam
melewati rongga mulut, dia terbawa angin, entah kemana dia pergi
terserah saja. Asal dia tak kembali untuk membakar hatiku lagi.
Sudah berapa lama ku harus terpuruk atas nama
cinta?. Kau harus sadar akan tanggung jawab yang kau pikul. Hati yang
seharusnya kau pertaruhkan untuk kerja keras mereka bukan hanya untuk urusan
gagalnya asmaramu. Tak sadarkah kau dipilih sebagai penguat?. Atau kau memang
orang yang tak dapat untuk diberi tanggung jawab?. Batau kau termakan akn
manisnya cita yang sudah sirna adanya?. Lail, butuh momentum seperti apa kau
harus membuka mata dan menatap dunia?.
Tak kujawab semua pertanyaan yang membanjiri logika
akan cinta dan pertangungg jawaban kerja. Kubiarkan dia membusuk disana,
kulangkahkah kakiku erlahan menyusuri tanggung jawab yang terbengkalai tak
kusentuk. Ketika aku yang sibuk menguatkan hati karena luka yang dibuatnya dan
pertangungg jawabanku akan mekanisme kerja. Aku yang perlahan mencoba tumbuh
menjadi kuat dan menpis setiap luka yang ada. Membiasakan diri beradatasi
dengan kondisi yang sangat berbahaya penjerat luka. Aku juga yang menganggap
hatiku ada setelah kau meninggalkannya. Aku yang tak ingin melihat pria lainnya
setelah merasa dustaan cinta. Aku yang selalu terpejam, tak meraba untuk
menunjukkan arah, karena sejatinya aku tak melangkah, tak berpindah dari luka
yang semula. Hanya bertopeng untuk memperbaiki suasana.
Kepergianmu menyeret beberapa makluk baru dalamku,
tapi apa daya diriku yang sudah tak berhati?. Sekalipun dia berteriak akupun
tak peduli. Berbagai untaian kata yang dia lontarkan sempurna tak berbekas dihatiku,
untuk apa aku memperdulikanmu singkat respon hati, karena sejatinya mereka yang
mendekat harus tau. Bahwa aku tak menginginkannya, aku menginginkan yang sedari
kemarin pergi.
Tingkah mereka beragam. Aku tak peduli, aku tak juga
tak ingin mereka bertingkah seperti itu. Gayamu yang seolah selalu ada buatku
percuma kau lakonkan, Aku tak butuh itu. Jika memang aku harus
menganggapmu ada . Mungkin jika kau bisa
membuat dia yang pergi, untuk kembali, singgah dan menetap disini. Tipis kubuat
senyum diantara bibir untuk menghargaimu.
Sampai pada suatu fase, hand phoneku bergetar tanapa
sebuah surat masuk. Rupanya dari kakak cantik sepadepokan smp dulu. Dia yang
sudah lebih tua dimalang dengan berbeda universias denganku (UMM). Sigkay
cerita dia member kabar gembira menurutnya, dan aku menghargai usaha yang
nyaris sia-sia dihadapanku. Lembut dia tuturkan dengan jelas diawal. “dek, mbak
punya adek. Dia pengen kenalan tapi bukan untuk masa penjajakan atau
berpacaran. Tapi dia ingin seris dalam suatu hubungan. Adek mau embak kenalin
sama dia?”. Atau tercengang kaget, tak banyak berfikir aku menjawab “maaf mbak saya masih kecil, belum siap buat yang
kayak gitu”.tak kekurangan akal kakak cantik itu membalas pesanku dengan cepat
“adek kenalan dulu aja sama dia, siapa tau cocok”. Tak kekurangan kal aku untuk
menepis setiap tawarannya, dan singkat aku menjawab “maaf mbak, saya belum siap
mungkin yang lain saja”.
Lama kakak cantik it tak menjawab pesan singkatku.
Pikiranku berlari keasan kemari mencari alas an yang dapat dimasukkan kedalam
logika. Kulayangkan lagi pesan singkat untuk menyenangkan hatinya “mbak, embak
marah sama saya?”. Cepat dia membalas “maaf dek tadi embak lagi ngajar les,
mbak ndak marah kog”. Rasa tidak enak hati membanjiri, aku yang tak tau harus menolak
dan menghormati perlakuannya seolah kekurangan akal. Dengan nada kecewa aku
bals pesan singkat tersebut “memangnya anak mana mbak?”. Singkat dia membalas
“anak UMM dek, mbak beri nomormu ke dia ya?”. Singgat aku menjawab pasrah “iya
mbak”. Selesai sudah adegan pura-pura baikku dengan kakak cantik. Sekarang aku
yang harus memikirkan segala cara untuk menolak hadirnya temankenalan kakak
cantik tersebut terhadapku.
Dretttt.dretttt, hand phoneku berbunyi. Nomor baru
sudah kudug bahwa itu kenalan yang disodorkan kak cantik. Basa basi dia
memperkenalkan diri entah seperti apa kau lupa tepatnya, yang kuingat persis
aku hanya bertanya kuliah dimana, ambil jurusan apa. Selebihnya dia bertanya
apa aku lupa. Singakat aku membalas pesan singkatnya, aku yang mempercepat
waktu tidurku agar tak diganggunya lagi. Cepat sekali bui ini berputar,
tiba-tiba sang fajar sudah indah tengger pada langit. Entah jam berapa dia
melayangkan pesan singkat lagi untukku. Dia yang mengajakku untuk bertemu pada
malam hari. Singkat aku menjawab dengan menunjukkan wujud asliku “baru kenal
tadi malam sudah minta ketemuan? Maaf silahkan cari wanita lain yang mau
bertemu denganmu saat malam hari”. Aku naik pitam rupanya semua lelaki sama
adanya. selalu membuat geram. Cepet sekali dia membalas yang berisi permintaan
maaf. Acuh saja aku dengan wujud asliku. Biar saja dia merasa bersalah, siap
juga yang menyuruhnya berbuat salah. Sama sekali tak kubalas pesan singkat
darinya, dan ada satu pesan singkat masuk dari nomor yang tak kukenal. Setelah
kutelisik dan dia tak mengaku dari mana dia medapat nomorku. Dia hanya megaku
bersekolah di universitas muhamadiyah malang. Tak lama kau berfikir, siap lagi
yang menyebarkan nomorku kalau bukan dia. Toh, aku tak punya teman pria di UMM.
Cepat kulayangkan pesan singkat untuknya”tolong jangan disebarkan nomor saya.
saya sangat tidak suka denganmu jika kamu bertinkah seperti ini” mungkin sepeti
itu tuturku, aku lupa. Tak ada balasan, tak ada lagi nomor baru nangkring di
hand phoneku, Alhamdulillah.
Tak lagi aku mencari kualisi diantara mereka yang
mendekat. Tak lagi kucari kenyamanan dari mereka. Karena kualisi dan kenyamanan
yang kupinta telah ku bawa pergi, kau yang sudah bersanding dengan wania jalang
itu. Aku yang kan selalu mengunci diri, menunggumu aau calon suamiku nanti
menepati janjiku yang tak main-main kuikrarkan kepadamu.
Langganan:
Postingan (Atom)
